Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Puskesmas Sebaiknya Dipimpin Oleh Dokter

1022

Bandung, Sriwijayatimes.id | Artikel ini disampaikan setelah mengamati posisi jabatan Kepala Dinas Kesehatan Di Kabupaten OKU Timur, tidak memenuhi kriteria The Right Men On The Right Place. Oleh karena itu atas keprihatinan penulis, yang pernah bertugas Di Kabupaten OKU dari tahun 1980 s/d 1998 sebagai pimpinan di Tiga Puskesmas, sebagai Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Kantor Departemen Kesehatan Kabupaten OKU.

Iklan Baris#Dijual : Handphone VIVO X50 Pro 8/256GB 8jt Nego. Hub : 081273412443
#Percetakan Murah Cepat Hub : 082186352428
.

Karena ikatan emosional yang kuat dan rasa tanggung jawab moral terhadap kepercayaan yang pernah diemban pada saat itu, maka penulis berkewajiban untuk menghimbau dan memberikan masukan saran kepada Pimpinan Daerah dan Organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Tiga Kabupaten OKU (OKU, OKU Timur, OKU Selatan) meninjau kembali penempatan dokter secara proposioanal pada jabatannya

Latar belakang pokok-pokok pemikiran


Administrasi Kesehatan

Dari berbagai literature disebutkan bahwa Administrasi Kesehatan adalah Administrasi Kedokteran (Prof. DR. Dr. Azrul Azwar, MPH). Puskesmas dalam perkembangannya mempunyai fungsi sebagai Health Center, dengan munculnya kesinambungan pelayanan dan perkembangan ilmu kedokteran.

Sebagai Health Institution, suatu lembaga kesehatan yang membatasi aspek kesehatan dan system rujukan dan pelayanan yang canggih, mencakup hal-hal yang spesialistik
Selanjutnya sebagai pusat kesehatan masyarakat dalam pelaksanaannya mencakup Dua macam teknologi

  1. Ilmu dan Teknologi Kedokteran
    Dengan kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran, tujuan yang ingin dicapai agar penyelesaian masalah dicapai pada dasarnya adalah aspek efektivitas dimuali dengan melakukan analisis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis penyakit sampai tindakan penyembuhan yaitu kuratif dan rehabilitatif.
  2. Ilmudan teknologi administrasi penyelenggaraan kesehatan, tujuannya agar menyelesaikan berbagai masalah kesehatan dengan merencanakan, mengorganisasi, mengendalikan, mengawasi berbagai sumber tenaga, dana, sarana sehingga terlaksana kegiatan yang edisien termasuk upaya preventif dan promotif
Baca Juga :   Vaksin Covid-19 Segera Dibagikan, Masyarakat Harus Tetap Jalankan Protokes

Ilmu dan teknologi administrasi yang diterapkan pada upaya kesehatan dengan ilmu dan teknologi kedokteran adalah untuk terciptanya keadaan sehat ini disebut Adminstrasi Kesehatan.

Upaya menggabungkan kedua ilmu tersebut cukup mewakili menurut komisi pendidikan administrasi kesehatan Amerika Serikat Tahun 1977, yaitu bahwa Administrasi kesehatan ialah suatu proses yang menyangkut perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, pengkoordinasian dan penilaian terhadap sumber, tatacara dan kesanggupan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan kesehatan, perawatan, kedokteran serta lingkungan yang sehat dengan jalan menyediakan dan menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan, yang ditujukan kepada perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat.

Kesimpulan, bahwa kedua ilmu dan teknologi tersebut diimplementasikan untuk fungsi kuratif, preventif, promotif dan rehabilitative. Dimana ke empat kegiatan tersebut dilakukan di Puskesmas dan Rumah Sakit rujukan. Ke empat fungsi itu hanya bisa dilakukan oleh dokter, terutama kuratif dan rehabilitative.

Dokter Pemimpin

Dokter adalah sarjana daripada segelintir manusia Indonesia yang beruntung melewati pendidikan tinggi selama sekian tahun, merupakan kelompok yang memiliki kedudukan, fungsi dan peran khusus bagi lingkungan masyarakat, kelompok elit terpelajar yang memiliki kesanggupan nalar secara sistematis dan terarah.

Lain pihak, masyarakat cenderung menaruh harapan yang berlebih, untuk menyelesaikan masalah kesehatan melewati batasan ilmu dan keterampilan yang dimiliki oleh kita para dokter. Kita dituntut bukan semata mata selaku sarjana ilmu kedokteran, tetapi juga diharapkan mampu berperan sebagai pembimbing selaku pemimpin. Pembekalan keilmuan itu sudah didapat dari pelajaran Public Health di universitas.

Baca Juga :   Vaksin Covid-19 Segera Dibagikan, Masyarakat Harus Tetap Jalankan Protokes

Peran Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Saya menghimbau kepada teman sejawat, jangan jadi IDI Kabupaten OKU Raya (OKU, OKU Timur, OKU Selatan) menjadi seperti menara gading, dengan tidak menghiraukan kepentingan sekelilingnya. Karena kita dokter adalah social worker, hakikatnya sebagai pekerja sosial, selama ini nampaknya jalan sendiri sendiri.

Terlibatlah dalam program-program pemerintah, untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, jangan terbatas fungsinya hanya sebatas memberi rekomendasi izin prkatek. Lakukan kolaborasi dengan semua stake holder, terutama dengan Dinas Kesehatan. Secara sinergis melakukan penguatan terhadap system kesehatan nasional yang di prioritaskan.

Peranan Dinas Kesehatan

Bahwa sistem kesehatan nasional adalah mainstream atau arus utama kesisteman yang harus dilaksanankan di tingkat Kabupaten Kota dalam bentuk sistem kesehatan daerah. Lakukan penguatan terutama pengembangan sistem surveilans, karena dari dulu negara kita tidak berubah, selalu dalam keadaan transisi. Penyakit menular TBC tidak habis-habis, sementara NCD (penyakit tidak menular) meningkat terus.

Demikian saran dan masukan dari saya, kiranya dapat diterima di Kabupaten OKU Raya agar tertatanya pemilihan pejabat, terutama untuk Kepala Dinas Kesehatan yang merupakan Lex specialis dan dapat dilakukan reformasi birokrasi demi terlaksananya Good Governance atau tata kelola pemerintahan yang baik.

Penulis :


Dr. Syahrizal Aminuddin

Riwayat tugas di Kabupaten OKU :
1980 RSUD Baturaja
1981-1985 Puskesmas Pulau Beringin (OKU Selatan)
1985-1987 Puskesmas Simpang (OKU Selatan)
1987-1991 Puskesmas Martapura (OKU Timur)
1991-1997 Kepala Dinas Kesehatan kabupaten OKU,
Kepala Kantor Departemen Kesehatan OKU